Sunday, October 23, 2016

Arti Kata SAMAPTA , ” polisi yang samapta “

Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia Online,

samapta merupakan kata benda (verb) yang berarti ‘siap siaga’. Bila ditambah imbuhan ke-an, menjadi kesamaptaan, berarti perihal samapta, kesiapsiagaan. Sebuah ungkapan disampaikan menjelaskan arti ‘samapta’, yaitu setiap prajurit harus selalu samapta biarpun negara dalam keadaan aman. Sampai di sini, saya pun akhirnya mengerti mengapa pria-pria tegap itu mesti melakukan ‘ritual’ melelahkan,

menurut saya, setiap hari sejak pagi hingga sore menjelang. Karena memang mereka dilatih dan dipersiapkan untuk menanggapi setiap ancaman dan gangguan terhadap rasa aman dan nyaman masyarakat. Prajurit/militer, polisi maupun pengamanan swakarsa merupakan sekelompok orang yang dipersiapkan untuk menjaga keamanan dan kenyamanan masyarakat.

Posisi mereka sejatinya berada di depan masyarakat menyongsong ancaman dan gangguan yang datang (bukan berhadap-hadapan ya…) Nah, untuk itu mereka dipersiapkan dengan dana negara (baca: dana masyarakat) demi kesamaptaan. Samapta dalam menanggapi segala persoalan yang bikin rumit permasalahan hidup masyarakat yang sudah bermasalah. * * *

Namun apa yang terjadi saat ini, jauh api dari panggang. Kesamaptaan yang diharapkan ternyata masih belum menjadi ‘makanan’ sehari-hari para anggota Polri. Suatu sore saat saya tengah dalam perjalanan keliling kota, saya mendapatkan sebuah fakta dari sekian fakta yang selama ini sadar atau tidak saya saksikan.

Tentang polisi yang samapta… Menggunakan pakaian dinas harian lengkap, jelas terpampang di lengan kanan lambang samapta, ada senjata api genggam disandang di pinggang. Dari sosok pria yang tingginya lebih rendah satu kepala dengan saya, tiada kesamaptaan itu. Mengapa? Karena sepertinya polisi itu overweight. Perutnya membuncit hingga menyesak pakaian coklat yang dikenakannya. Saat berjalan pun, pria setengah baya itu terkesan sudah kerepotan, apalagi kalau ada pencopet atau penjahat yang mengancam masyarakat. Sebuah pertanyaan besar muncul di benak saya, dimana letak kesamaptaan itu? * * *

Fakta polisi buncit, polisi gendut, tidak hanya sekali saya saksikan. Tapi berkali-kali dan tersebar di sejumlah daerah. Kata teman saya, “Ach itu kan fenomena tidak hanya di Indonesia, di luar negeri pun banyak polisi gendut dan tambun” Memang benar, tapi apakah kita mesti mengikuti fakta di luar negeri itu? Apakah polisi kita juga mesti gendut dan buncit? Saya pikir tidak mesti seperti itu. Polisi Indonesia mesti berbeda dengan polisi di luar negeri. Polisi Indonesia mesti selalu siap dan siaga menghadapi ancaman dan tantangan yang ada di depan.

Polisi Indonesia wajib melatih fisik dan mental supaya tetap samapta dalam tugas, karena bagaimanapun juga mereka dibiayai oleh masyarakat Indonesia. Masyarakat percaya penuh pada polisi Indonesia untuk melindungi dan mengayomi. Masyarakat menggantungkan harapan akan keamanan dan kenyamanan yang baik di pundak polisi Indonesia. “Semakin tinggi pangkat atau posisi, maka polisi Indonesia akan semakin mengoleksi lemak di tubuhnya”,

demikian kesimpulan sebuah diskusi singkat dengan kawan-kawan terkait polisi yang samapta. Tapi saya sama sekali tidak percaya itu, memang saya termasuk dari 2 orang dalam diskusi itu yang kontra terhadap kesimpulan itu. Karena menurut saya, polisi Indonesia masih banyak yang sadar dan tahu diri untuk selalu menjadi samapta. Tapi akankah pemikiran saya itu masih bisa bertahan? Atau jangan-jangan saya adalah satu dari sekian sedikit orang yang optimistis melihat prospek kesamaptaan polisi Indonesia?

The post Arti Kata SAMAPTA , ” polisi yang samapta “ appeared first on Halo Dunia.



from Halo Dunia http://ift.tt/2elRoVM
via IFTTT

0 comments:

Post a Comment